Today March 6, 2021

Kisah Pendaki dan Cerita Horor

Memberikan Bacaan Cerita Horor Pendaki Terbaru

Cerita Porter Alami Hal Mistis Saat Antar Pendaki Gelar Ritual di Gunung Lawu

cerita-porter-alami-hal-mistis-saat-antar-pendaki-gelar-ritual-di-gunung-lawu

Cerita Porter Alami Hal Mistis Saat Antar Pendaki Gelar Ritual di Gunung Lawu – Kisah mistis sering dialami para pendaki Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Cerita Porter Alami Hal Mistis Saat Antar Pendaki Gelar Ritual di Gunung Lawu

cerita-porter-alami-hal-mistis-saat-antar-pendaki-gelar-ritual-di-gunung-lawu

christianlouboutinbar.com – Meski banyak yang mengalami hal-hal gajil, kekuatan tarik Gunung Lawu bagi para pendaki tak dulu luntur.

Keindahan panorama alam tak ayal menjadi pembasuh letih para pendaki selama perjalanan.

Di Gunung Lawu, kadang-kadang puncak bukan menjadi obyek utama.

Melainkan sensasi makan pecel di atas gunung justru menjadi pemantik utama para pendaki berasal dari bermacam tempat singgah di Gunung Lawu.

Pendaki tidak tidak wajib khawatir misalnya kehabisan bekal selama perjalanan.

Warung semi permanen bisa menjadi alternatif untuk mengisi perut yang keroncongan atau semata-mata istirahat memulihkan tenaga.

Di balik keindahan dan keunikannya, Gunung Lawu ternyata termasuk menyimpan cerita-cerita janggal.

Kisah misti di Gunung Lawu ini tidak benar satunya diceritakan oleh Purharyanto (30), seorang porter yang sering menolong para pendaki saat mendaki gunung yang terdapat di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini.

Warga Gondosuli Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar itu menjadi porter dan guide sejak 2006 lalu.

Pengalaman naik gunung bersama almarhum ayahnya menjadi bekal awal sebelum akan menjadi porter. Saat itu usianya sekitar 10 tahun.

Menjadi porter bagi ayah satu anak itu cuma menjadi sampingan saja.

Tepatnya pada 2007, laki-laki yang akrab disapa Best itu sesudah itu masuk komunitas pecinta alam, Anak Gunung Lawu (AGL).

Mulai berasal dari magang sampai meraih Kartu Tanda Anggota (KTA) selang sebagian tahun kemudian.

Keahlian menjadi porter makin terasah semenjak join ke dalam komunitas tersebut.

Membawa barang bersama berat 25 Kg-30 Kg menjadi hal biasa baginya.

Dalam keadaan normal atau santai, berasal dari basecamp sampai puncak gunung bisa ditempuh bersama estimasi saat 7-8 jam.

Dirinya sering mendampingi para pendaki menuju ke puncak lewat jalur Cemoro Kandang.

Seperti aturan di tiap tiap pos pendakian pada umumnya, brefing dan juga berdoa menjadi rutinitas sebelum akan mengawali pendakian.

Berbagai larangan seperti membuah sampah sembarangan, larangan vandalisme dan lainnya disampaikan kepada para pendaki. Begitu termasuk aturan yang dipercayai oleh masyarakat sekitar.

Seperti perempuan singgah bulan disarankan tidak naik gunung dan disarankan tidak mengenakan busana hijau pupus saat lakukan pendakian.

Namun tersedia saja pendaki yang melanggar aturan.

Semisal saya udah kasih aturan yang tersedia di sini tetapi pendaki itu melanggarnya.

Saat dijalan pasti tersedia kecelakaan.

Dari hal kecil seperti ada problem jalan.

Bahkan tersedia yang sampai kesurupan.

Di gunung manapun terkecuali aturan dilanggar pasti tersedia halangan terendiri.

Bukan cuma di Gunung Lawu saja, katanya saat berbincang bersama Tribunjateng.com di sekitar Basecamp Cemoro Kandang,

Selain menjadi porter pendaki pada umumnya, Best termasuk menjadi porter dan juga guide bagi para pendaki ritual.

Kejadian janggal dan juga beresiko tinggi sering dialaminya saat menjadi porter pendaki ritual dibandingkan bersama pendaki pada umumnya.

Pertama kali itu bawa rombongan berasal dari Magetan. Dua orang. Pendaki ritual itu kebanyakan niatnya naik ke Hargo Dalem dan Sendang Derajat.

Mereka kebanyakan punya nazar, terkecuali doa terkabul bawa persembahan sebagai bentuk terimakasih. Ada kambing, panggang tumpeng , terangnya.

Menurutnya menjadi porter pendaki ritual menjadi pengalaman berkesan sekaligus paling beresiko.

Menarik kambing menyusuri jalur pendakian bukan perkara mudah.

Pasalnya hewan liar di Gunung Lawu ini tetap tersedia seperti macan tutul. Rasa was-was dan merinding pasti tersedia selama perjalanan.

“Paling berat di jalan. Namanya bawa kambing, hewan liar di sini tetap ada.

Macan tutul. Itu merinding bawanya. Setiap terdengar geraman, kambing itu diam, tidak rela jalan.

Ya terpaksa digendong sampai atas. Kadang tak masukan ke bagor,”ucapnya.

Dia menceritakan dulu mengalami kejadian mistis saat mengantar pendaki ritual asal Bogor.

Pendaki asal Bogor itu membawa kambing sebagai bentuk ucapan terimakasih sehabis doanya terkabul.

Biasanya sehabis disembelih potongan daging kambing, bagian kaki, ekor dan hati ditaruh di Hargo Dalem.

“Sempat nginep di pos bayangan.

Kambing disembelih di situ dan daging di bawa ke atas.

Tahu-tahu tersedia seperti orang naik kuda tanpa kepala.

Kepalanya ditenteng.

Saya sampai teriak.

Bos yang tidur ditenda sampai terbangun.

Saya tidak, saya tidak bisa jawab.

Saya tidak berani menongok dan cuma menunduk.

Ditanya lagi, tersedia apa.

Enek uwong marani saya (ada orang medatangi saya), uwong numpak jaran (orang naik kuda).

Uwis ojo tekok wae (sudah jangan tanya terus),” kenangnya.

Lebih lanjut, kejadian janggal itu baru saya ceritakan kembali saat keesokan harinya. Kejadian itu bukan cuma sekali dialaminya.

Selain itu saat mengantar pendaki lain asal Bogor, dirinya termasuk sempat mengalami kejadian janggal lain saat berada di dalam tenda.

Tenda itu didirikan di depan warung yang berada di jalur menuju puncak.

Saat itu pendaki yang bersamanya bertanya, apakah mendengar nada orang terjadi seperti seorang prajurit.

Best tidak benar-benar menanggapi apa yang ditanyakan dan meminta pendaki itu sehingga tidur saja.

“Setelah bilang begitu, pukul 24.00. Ada yang memutari tenda sambil mengetuk tenda.

Bayangan hitam. Saya sesudah itu main handphone dan mendengarkan musik (lagu),”tuturnya.

Selama menjadi porter maupun guide, pengalaman mistis sering dialami Best saat mengantar pendaki ritual berasal dari pada pendaki biasa pada umunya yang semata-mata menikmati keindahan alam sembari berswa foto.

Dia mengungkapkan, pengalaman menjadi porter yang paling berkesan selama ini ialah turut mengantar anak berasal dari putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ibas dan AHY saat naik ke puncak Gunung Lawu. (*)

Tags:

sendaru12

sendaru12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top