Today January 17, 2021

Kisah Pendaki dan Cerita Horor

Memberikan Bacaan Cerita Horor Pendaki Terbaru

Cerita Mistis Pendaki Tersesat di Pasar Jin Gunung Bawakaraeng

Cerita Mistis Pendaki Tersesat di Pasar Jin Gunung Bawakaraeng – Pasar Anjaya, begitulah para pendaki menyebut lokasi yang penuh mistis itu. ‘Pasar setan’ ini berada di sedang hutan di antara Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Cerita Mistis Pendaki Tersesat di Pasar Jin Gunung Bawakaraeng

Cerita Mistis Pendaki Tersesat di Pasar Jin Gunung Bawakaraeng

Jika dicermati dari kejauhan, lokasinya sekedar merupakan tanah lapang yang dikelilingi pepohonan rimbun. Oleh para pendaki Pasar Anjaya terhitung akrab dikenal bersama dengan sebutan Pasar Jin.

“Pasar Jin itu tanah lapang yang tersedia di sedang hutan Gunung Bawakaraeng, tersedia banyak cerita mistis di situ,” kata Andi Yusuf, tidak benar seorang pendaki yang pernah mendatangi Pasar Anjaya,

Salah satu mitos yang dipercaya oleh banyak pendaki, lanjutnya, adalah wejangan untuk tidak mendirikan tenda di kira-kira lokasi Pasar Anjaya yang berada di kaki Gunung Bawakaraeng itu. Sejumlah pendaki yang nekat mendirikan tenda dan bermalam di sana akan mengalami perihal aneh dan mistis.

“Ceritanya tetap mirip dari para pendaki yang berbeda, kalau nekat mendirikan tenda dan menginap di sana, tentu kita akan mendengar suara riuh keramaian layaknya di sedang pasar, namun pas kita membuka tenda tidak tersedia apa-apa,” jelas Andi Yusuf.

Aksa Rahim, pendaki lainnya, menceritakan bahwa lebih dari satu dari para pendaki lebih-lebih mengaku pernah tersesat di sana. Mereka yang tersesat percaya bahwa mereka dibawa masuk ke alam gaib.

“Salah seorang rekan aku pernah tersesat di sana, sayangnya dikala kita sukses mendapatkan dia, dia tidak mengingat dia dibawa kemana. Tapi kita percaya dia dibawa ke alam gaib,” Aksa menuturkan.

Belakangan sesudah Aksa menceritakan apa yang dialaminya dan kawannya itu kepada pendaki lainnya terkuak bahwa kawannya itu melanggar tata krama dan etika dikala berada di kawasan yang dipercaya sebagai lokasi Pasar Anjaya.

“Iya kala itu rekan aku sebenarnya ngomong seolah tidak percaya, dia takabur. Selain itu dia terhitung gunakan busana merah, padahal dilarang gunakan busana merah di sana,” dia memungkasi.

Selain itu, tersedia cerita melegenda lainnya di sini, yaitu mengenai arwah gentayangan perempuan berparas cantik bernama Noni. Pandi mengakui cerita mistis tersebut.

Mitos selanjutnya awalnya diceritakan oleh nyaris semua penduduk di kaki Gunung Bawakaraeng yang disebut Kampung Lembanna. Noni, kata warga Lembanna, sering menampakkan diri kala bulan purnama.

Penduduk Lembanna sering bercerita kepada para pendaki, kalau bulan purnama tiba, selanjutnya angin tak berhembus kencang dan terdengar suara longlongan anjing sebaiknya jangan mendaki atau keluar tenda dulu.

“Karena bisa berjumpa tiba-tiba bersama dengan Noni yang sering menampakkan diri,” ungkap Pandi.

Pandi jelas cerita mistis mengenai Noni kala bermalam di tempat tinggal penduduk di Lembanna sebelum saat esoknya memulai pendakian untuk ikuti upacara 17 Agustus di Gunung Bawakaraeng.

Menurut warga setempat, kata Pandi, dahulunya semasa hidup Noni sering mendaki Gunung Bawakaraeng bersama dengan kekasihnya. Sekitar th. 1970 atau 1980-an, nyaris tiap-tiap pekan Noni mendaki. Ketika itu, kesibukan pendakian tak seramai sekarang. Karena sering mendaki, Noni pun akrab bersama dengan warga.

Namun tiba-tiba suatu kala Noni turun dari kawasan Gunung Bawakaraeng seorang diri selanjutnya menuju pemukiman penduduk. Wajahnya pucat dan sesekali hanya melotot selanjutnya terdiam. Warga pun, kata Pandi, jadi heran melihat sikap Noni yang tadinya dikenal sebagai periang dan ramah kalau berjumpa penduduk setempat.

“Noni yang dicermati itu baru diketahui ternyata adalah arwahnya yang gentayangan. Itu diketahui sesudah lebih dari satu hari lantas penduduk yang mencari kayu di didalam kawasan hutan gunung mendapati tubuh Noni tergantung di dahan besar pohon, tepatnya di Pos 3 Gunung Bawakaraeng,” ungkap Pandi.Mitos Noni

Hingga kala ini penyebab kematian Noni tak tersedia yang jelas secara pasti. Cerita penyebab meninggalnya Noni yang hinggap di telinga para pendaki pun beragam. Dari jadi gantung diri di dahan pohon sampai pada dibunuh dan jasadnya digantung di dahan pohon agar tak dimakan hewan buas.

“Namun bagi aku cerita mistis mengenai Noni hanya sebagai mitos yang berkembang di mana sampai detik ini tak diketahui siapa sebenarnya Noni dan di mana kuburannya,” ucap Pandi.

Selain cantik, hantu Noni terhitung sering diceritakan sering berbuat baik dan mendukung para pendaki. Umumnya mereka yang kesulitan, jikalau tersesat, kelelahan hebat atau kehabisan perbekalan. Bahkan tersedia cerita yang menyebut, Noni sering menemani, sebabkan makanan, sampai menuntun pendaki yang tersesat sampai ke desa terdekat di kaki gunung.

Meski demikian, Pandi mengakui cerita mistis kawasan Gunung Bawakaraeng tetap ada. Masyarakat setempat pun tetap melindungi budaya leluhur setempat.

Salah satunya tiap-tiap th. penduduk kaki gunung beramai-ramai mendaki sampai ke puncak untuk melaksanakan Salat Jumat, Salat Idul Adha dan juga ritual 1 Muharram bersama dengan membawa hasil panen dan ternak berupa ayam dan kambing.

“Di atas puncak hewan ternak itu di lepaskan lantas jadi rebutan warga lainnya. Ritual itu umumnya digelar pada 1 Muharram kalau tidak salah. Saya pernah ikuti kegiatannya namun sudah lama,” ungkap Pandi.

Bahkan penduduk setempat yakin kalau seseorang sudah raih puncak Gunung Bawakaraeng, mirip halnya sudah menunaikan haji. Mereka percaya bisa berhaji dari puncak gunung layaknya halnya berhaji di Tanah Suci.

“Cerita warga tantangan naik haji mirip halnya kalau mendaki ke puncak Gunung Bawakaraeng,” ucap Pandi.

sendaru12

sendaru12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top