Today March 6, 2021

Kisah Pendaki dan Cerita Horor

Memberikan Bacaan Cerita Horor Pendaki Terbaru

Cerita Horor Seorang Pendaki di Gunung Lawu Yang Menyeramkan

cerita-horor-seorang-pendaki-di-gunung-lawu-yang-menyeramkan

Cerita Horor Seorang Pendaki di Gunung Lawu Yang Menyeramkan – Sebuah tread cerita horor diposting Wahyu, seorang pendaki Gunung Lawu lewat akun Twitternya. Dalam thread horornya itu, ia menceritakan kisah mistisnya pas mendaki bersama dua temannya, Dipta dan Windi.

Cerita Horor Seorang Pendaki di Gunung Lawu Yang Menyeramkan

cerita-horor-seorang-pendaki-di-gunung-lawu-yang-menyeramkan

christianlouboutinbar.com – Thread horor itu diposting Wahyu pada Kamis (5/12/2019) malam atau malam Jumat didalam dua bagian. Thread itu ia beri judul Pengalaman Mistis Gunung Lawu Part 1 dan 2.

“Sedikit cerita perihal pengalaman mistis disaat mendaki Gunung Lawu. judibolalive99 Waktu itu kami mendaki tiga orang, saya, Dipta dan Windi. Saya berangkat bersama Windi berasal dari Jogja dan janjian bertemu bersama Dipta di Basecamp Cemoro Sewu,” tulis Wahyu mengawali thread horornya.

Wahyu menambahkan, kebetulan pas itu Dipta tengah di Ngawi dan berangkat berasal dari rumah, ketimbang harus bolak balik ke Jogja (Yogyakarta). Awalnya, mereka bertiga memiliki rencana berangkat 6 orang, namun 3 orang berikan kabar tidak bisa turut pada H-2 keberangkatan.

“Seperti pendakian yang biasanya, kami memiliki rencana istirahat di basecamp semalam dan besok paginya merasa mendaki. Saya dan Windi sampai di Basecamp Cemoro Sewu pukul 19.00 Wib dan ternyata Dipta sudah menanti di masjid depan basecamp,” sambung Wahyu.

Malam itu hawa merasa dingin seperti biasanya, sesudah makan dan sedikit ngobrol bersama teman-temaan pendaki lain. Api unggun yang menyala mengantar mereka beristirahat.

“Paginya kami mengawali pendakian, di Gunung Lawu memadai banyak pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh para pendaki. Seperti Mengenakan pakaian hijau, tidak boleh mengganggu Jalak Lawu dan lain-lain (15 poin kecuali gak salah),” mengerti Wahyu.

Trek Cemoro Sewu ini tergolong trek paling dekat sekitar 8 kilometer (km). Trek rata-rata bebatuan yang sudah ditata rapi. Waktu di perjalanan menuju pos 4, ketiganya bertemu bersama seorang papa yang lakukan solo hiking (mendaki sendiri). Bapak itu berasal berasal dari Surabaya.

Bapak itu termasuk mengaku bekerja di keliru satu perusahaan kontraktor. Menurut Wahyu, ada yang sedikit aneh bersama papa itu, lantara papa itu hanya membawa day pack kecil.

“Bapak ini orangnya benar-benar mudah berbaur bersama orang lain dan segera bisa akrab bersama kami bertiga,” tutur Wahyu.

Perjalanan mereka bertiga menjadi lebih mengasyikkan sebab papa tersebut selalu bisa membuat tertawa bersama pengalaman-pengalamnnya yang benar-benar lucu. Di tengah perjalanan, Wahyu penasaran bersama barang apa yang dibawa papa tersebut. Ternyata isinya hanya air mineral dan kemenyan.

“Loh engga bawa sleeping bag pak?” bertanya Wahyu penasaran.

“Enggak mas, aku nginep di warung dekat Hargo Dalem. Di sana aku biasa pinjam sleeping bag. Saya sebulan sekali sowan (berkunjung) ke sini mas, menjadi sudah biasa,” jawab Bapak itu.

Memang, di Gunung Lawu benar-benar banyak orang seperti papa itu. Sebab di Gunung Lawu terkandung sebuah makam di didalam bangunan yang bernama Hargo Dalem. Jika ingin memandang orang lakukan tirakat di sana, biasanya pada malam satu suro. Beberapa apalagi ada yang membawa kambing ke atas.

Pukul 17.00 Wib, mereka bertiga kelanjutannya sampai di camp terakhir. Di sana terkandung warung Mbok Yem yang populer bersama sebutan warung tertinggi di Pulau Jawa. Ketika itu, mereka bertiga beristirahat sebentar di dekat warung Mbok Yem dan memiliki rencana mendirikan tenda.

“Bapak itu berpamitan sebentar kepada kami, katanya dia berkenan sowan dulu di Hargo Dalem,” sambung Wahyu.

Gunung Lawu populer bersama hawanya yang benar-benar dingin. Dari situ, Wahyu membawa inspirasi untuk nge-camp di didalam sebuah gubuk yang beratap seng, dekat Hargo Dalem dan meminta meminimalisir dinginnya Gunung Lawu.

“Buk, niki nopo saget camp teng bangunan niku? (Bu, apa bisa nge-camp di bangunan itu),” bertanya Wahyu kepada penjaga warung Mbok Yem.

“Oalah saget mas, camp teng mriku mawon (Bisa mas, nge-camp di situ saja),” timpal penjaga warung itu.

Tanpa pikir panjang, Wahyu dan Windi segera mendirikan tenda. Waktu itu Dipta benar-benar kelelahan dan tidak turut mendirikannya. Ada sebagian bangunan yang beratap seng di sana, dan mereka pilih bangunan sebelah kiri. Karena di anggota kanan, pada pintu terkandung gambar setan.

“Dengan beralas tanah dan sebagian jerami, kami terhubung tenda berasal dari didalam tas carrier,” ucap Wahyu.

Mulai berasal dari sini, kejanggalan demi kejanggalan merasa muncul.

Tags:

sendaru12

sendaru12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top