Today March 6, 2021

Kisah Pendaki dan Cerita Horor

Memberikan Bacaan Cerita Horor Pendaki Terbaru

Cerita Horor: Sekian Lama Tinggal di Kontrakan Tua, Akhirnya Mereka Berkenalan

cerita-horor-sekian-lama-tinggal-di-kontrakan-tua-akhirnya-mereka-berkenalan

Cerita Horor: Sekian Lama Tinggal di Kontrakan Tua, Akhirnya Mereka Berkenalan – Kisah horor viral di media sosial Twittter, kali ini dibagikan oleh account @Saifitri86.

Cerita Horor: Sekian Lama Tinggal di Kontrakan Tua, Akhirnya Mereka Berkenalan

cerita-horor-sekian-lama-tinggal-di-kontrakan-tua-akhirnya-mereka-berkenalan

christianlouboutinbar – Dalam unggahannya itu, Sarah menceritakan kalau cerita berikut merupakan kisah nyata yang dialaminya.

Sarah adalah seorang wanita yang saat ini tinggal di kota kecil Jawa Barat.

Judibolalive99 – Ia harus pindah ke Kota Kembang itu untuk menuntut Ilmu di keliru satu universitas ternama di sana.

Saat pindah ke Bandung, Sarah pergi bersama ayahnya.

Ayahnya mengantarkan Sarah ke rumah kontrakan yang bakal dihuni Sarah selama menuntut ilmu.

Di kontrakan itu, Sarah juga bakal tinggal bersama dua orang saudara sepupunya yang juga menuntut pengetahuan di area dan angkatan yang sama dengannya.

Saudara tertua bernama Jani dan saudara yang lebih tua berasal dari Sarah bernama Ava.

Sarah merupakan yang paling kecil berasal dari mereka bertiga, maklum baru lulus SMA th. yang sama.

Selama dua 1/2 jam di perjalanan, pada akhirnya ia tiba di Kota Bandung.

Ini adalah pertama kali Sarah tinggal jauh berasal dari orang tuanya. Perasaan campur aduk pasti dirasakan Sarah.

Setelah mobil terparkir, Sarah bergegas turun dan mengambil barang-barang bawaanya.

Sembari mengangkat bawaan, Sarah dan ayah langsung menyusuri sebuah gang kecil.

Berjalan sedikit jauh ke dalam dan sampailah mereka di depan kontrakan itu.

“Assalamu’alaikum!” Kami mengucap salam sembari memasuki rumah yang pintunya memang terbuka.

“Wa’alaikumsalam, Mang!” Sahut A Jani dan Teh Ava.

“Tos dugi gening. Sok atuh sakieu ayana, Sar (Udah sampai. Silahkan begini adanya, Sar),” Ucap Teh Ava kepadaku.

Saat itu Sarah tersenyum dan mengangguk dan lihat sekeliling.

Rumah berikut adalah rumah tua bersama dua lantai dan sedikit tidak terawat.

Saat itu, Sarah memaklumi hal berikut bahkan budget yang ia punyai untuk menyewa rumah kontrakan terlampau terbatas.

Tangga menuju lantai dua adalah tangga kayu bersama pegangan kayu. Terlihat ceroboh dibuatnya.

Sarah mendekati tangga dan lihat keatas, diujung tangga berikut adalah tembok, sebelah kiri tersedia pintu kecil menuju terlihat ketempat jemuran dan talang air.

Dan disebelah kanan terkandung ruangan tanpa pintu yang cuma sanggup dimasuki bersama cara sedikit membungkuk.

Ruangan berikut pas berada di atas kamar tidur Sarah yang terletak satu diantara tangga dan kamar Teh Ava.

Kamar Teh Ava adalah kamar yang paling dekat bersama pintu utama.Jani lebih memilih kamar paling ujung di dalam, sekitar tiga cara berasal dari tangga pas disebrang dapur yang merupakan akses menuju cuma satu kamar mandi di rumah itu.

Terdapat ruangan kosong yang memadai lebar di depan kamar Sarah dan kamar Teh Ava dan ruangan ini nantinya bakal jadikan area berkumpul bersama alas karpet lusuh.

Lebih lanjut, Sarah langsung membenahi barang-barangnya di dalam kamar baru.

Ada lebih dari satu noda lembab di dinding berwarna coklat dan lebih dari satu terkelupas.

Pantas saja terasa dingin, memang lembab, pikirnya. Tapi sudahlah, area ini memadai nyaman.

Sore pun tiba, ayah Sarah pun berpamitan untuk pulang.

Dengan berat, Sarah melepaskan kepergiannya sebab tak tega mengayalkan penghuni rumahnya cuma tinggal Ayah dan Mamahnya saja.

Perlu diketahui, ke dua kakak Sarah sudah punyai kehidupan masing-masing di luar kota.

Tentu sebagai anak bungsu terasa berat untuk meninggalkan orang tuanya.

Singkat cerita, satu bulan tempati rumah tersebut, Sarah tidak merasakan tersedia yang aneh.

Atau barangkali Sarah mengabaikannya sebab sibuk terhadap ospek dan persiapan kuliah?

Oh ya, Sarah bukanlah sosok yang indigo. Namun, ia kadang kala sanggup merasakan keberadaan makhluk halus di sekitarnya.

Sampai terhadap suatu hari, selagi itu kegiatan studi sudah berlangsung dan tugas-tugas terasa berdatangan, Sarah harus pulang ke kontrakan sekitar pukul 7 malam dan langsung tertidur.

Setelah lama Sarah tertidur, ia terbangun bersama keadaan sekelilingnya yang gelap sekali.

Memang tradisi Sarah selagi hendak tidur tetap mematikan lampu kamar, ia tidak sanggup tidur dalam keadaan terang.

Tapi selagi itu terlampau gelap keseluruhan dan Sarah harus membiasakan matanya dalam gelap.

Setelah nyawanya kumpul, Sarah baru mengetahui kalau kegelapan ini sebab lampu ruangan di depan kamarnya mati.

Biasanya kalo malam lampu berikut dinyalakan dan cahayanya masuk lewat jendela di atas pintu kamar dan lewat sela-sela pintu yang rapuh.

Saat itu, Sarah meraba-raba melacak HP dalam gelapan, ternyata tersedia telephone dan sms masuk selama ia tidur.

Dari ke dua saudaranya yang mengabarkan mereka tidak sanggup pulang sebab mengerjakan tugas group di kost temannya.. Yang berarti, Sarah harus sendirian di kontrakan.

Saat Sarah lihat jam, ternyata selagi itu sudah pukul dua malam.

Ia sedikit merinding dan mengusahakan tidur kembali, namun kantuknya sudah hilang.

Jadi, Sarah memaksakan untuk menutup mata dan pikirannya melayang kesana kemari.

Seketika ia teringat, bukankah selagi pulang tadi ia mengakses pintu utama dan langsung menyalakan lampu area depan?

Sarah terlampau ingat betul kalau ia langsung masuk kamar, pindah busana selanjutnya tertidur.

Dia tidak memadamkan lampu itu, bahkan lampu itu tetap menyala setiap malam dan jadi cuma satu sumber sinar di malam hari.

Lalu kenapa saat ini padam?

Sarah cuma sanggup mengusahakan tenang, dan memastikan ingatannya

Saat hendak bangun berasal dari tidurnya dan menyalakan lampu kamar, tiba-tiba Sarah mendengar suara lirih sekali berasal dari balik pintu kamarnya “Hihihihi…”

DEG! Detak jantung Sarah selagi itu serasa berhenti.

Seketika ia mengurungkan diri untuk berdiri. Sarah cuma duduk di atas area tidur sambil memegang erat selimut.

Sarah diam dalam posisi waspada, ragu pada percaya mendengar suara tawa dan mengusahakan memastikan diri sendiri bahwa ia cuma keliru dengar.

Ia tetap mengusahakan fokus, namun yang didengar cuma hening.

Pelan-pelan Sarah lagi ke posisi tidur. Berhati-hati sekali seakan-akan membangunkan suatu hal yang ia pun tak tau apa.

Suara cara kaki kecil berlari melintas di depan kamarnya.

Otak Sarah langsung merespon kalau itu adalah tikus.

Saat itu Sarah mengusahakan membaca ayat apapun yang diingatnya. Tapi tidak satupun lancar diucapkannya.

Terbesit dalam pikirannya untuk bangun dan menyalakan lampu kamar.

Pikirnya kalau terang ia bakal lebih tenang? Tapi disisi lain, Sarah terasa risau kalau bersama menyalakan lampu ia tambah bakal lihat sosok-sosok yang tengah mengganggunya.

Entah berapa lama Sarah diam dalam posisi yang sama. Tidak bergerak dan suara-suara itu tidak kunjung pergi.

Ia tidak berani mengakses selimut, risau justru mereka bakal terlihat di depan mukanya. Padahal kondisinya selagi itu sudah basah kuyup oleh keringat.

Mungkin sebab tubuh Sarah lelah sehabis tegang dalam selagi lama, pada akhirnya ia pun tertidur bersama sendirinya.

Sarah terbangun selagi adzan subuh berkumandang, suara-suara aneh itu sudah hilang.

Meski sedikit lega sebab tersedia suara-suara orang di gang berlangsung menuju masjid untuk salat subuh, namun rasa risau Sarah tetap terlampau besar.

Ya.. itu adalah peristiwa pertama Sarah ‘berkenalan’ bersama penghuni kontrakan.

Walau tidak bertatap wajah langsung, namun perkenalan itu membekas sampai sekarang.

Ia tidak bakal menceritakan perihal berikut kepada ke dua saudaranya.

Bukan apa-apa, Sarah sendiri risau menceritakan lagi selagi dirinya tetap tinggal di rumah itu.

Dan mereka mengontrak selama 1 tahun, bermakna Sarah harus bertahan selama 11 bulan kedepan.

Setelah perihal itu, ia cuma merasakan lebih dari satu gangguan-gangguan ‘kecil’ menimpanya layaknya barang berubah area sendiri, selimut ditarik selagi tidur, atau lihat sekelebat bayangan melintas.

Singkat cerita, bulan Ramadhan sudah datang, gangguan kecil itu terasa berkurang, meski tidak 100 % hilang.

Lebih lanjut, Gerald adalah tetangga Sarah yang bertempat tinggal di ujung gang.

Dia adalah anak band yang gaul dan cocok berkenalan bersama Sarah sebab kepribadiannya yang asyik.

Sejak pertemuan pertama mereka jadi jadi akrab, sampai pada akhirnya terhadap suatu malam mereka memutuskan untuk sahur bersama di keliru satu kafe di Lembang.

“Gerald jemput jam 9 ya, Nong!” Ucap Gerald sebelum menutup telepon.

Nong adalah panggilan Sarah berasal dari Gerald. Rencana sahur malam ini cuma bakal tersedia mereka berdua sebab teman-teman yang lain tidak sanggup ikut.

Tak masalah, bagi mereka keadaan alam terbuka dan hawa yang dingin adalah favorit mereka.

Saat itu, Sarah baru saja selesai meeting bersama anak-anak band.

Ia join jadi keliru satu vokalis di band tersebut.

Hobby Sarah memang bernyanyi dan kebetulan band Sarah dan band Gerald tersedia dalam satu basecamp.

Basecamp yang dimaksud adalah rumah di area Buah Batu punya Horis, keliru satu personil band.

Gerald tidak ikut meeting sebab suatu hal. Sehingga ia memutuskan untuk pulang diantarkan oleh drummernya.

Sesampainya di rumah, Sarah langsung berbuka dan salat magrib.

Masih lelah, ia mengunci pintu dan berbaring sambil membaca pesan yg masuk. Dan Sarah pun tertidur..

Dalam tidurnya, Sarah bermimpi bersua Gerald

“Ayok berangkat!” Ajak Gerald.

Sarah menggeleng enggan pergi, entah kenapa ia tau kalau tengah bermimpi.

Tiba-tiba Gerald berubah jadi menyeramkan dan berteriak marah

“AYO PERGI!!” teriaknya.

Seketika ia langsung terbangun berasal dari tidur sebab kaget.

Dan dalam keadaan tetap terlampau mengantuk, mata Sarah tertuju terhadap seseorang yang duduk menunduk di ujung kasur dekat kakinya.

Seorang laki-laki kenakan topi sama Gerald.

Mata Sarah jadi berat, rasa kantuknya jadi tak tertahankan. Tidak kebanyakan ia begitu.

Ia sesudah itu menutup matanya dan tiba-tiba ingat kalau pintu kamarnya sudah dikunci sebelum Sarah tidur!

Lalu bagaimana Gerald sanggup masuk? Tetoott.. Tetoott.. Suara ringtone HP Sony Ericsson tanda telephone masuk berbunyi.

“Halo? Nong! Gerald bentar lagi jemput! Udah siap kan?” Cecar Gerald bersemangat.

“Rald, lo tadi kekamar gue?” Tanya Sarah meniadakan pertanyaan Gerald.

“Ga tuh! Gerald baru pulang ini langsung telephone kamu!” Sarah diam bersama Kantuk yang mendadak hilang.

Sarah langsung berdiri menyambar pegangan pintu dan tetap dalam keadaan terkunci.

“Nong woy!!” Teriak Gerald di telepon.

“Iya 15 menit lagi jemputnya, gue shalat isya dulu.” Sahutnya.

Ia tutup telephone dan langsung terlihat berasal dari kamar.

A Jani tengah bersila diruang depan kamar Sarah sambil bermain HP.

“A, tadi Gerald kadieu teu?” (A, tadi Gerald kesini ga?) Tanya Sarah.

“Teu aya,” (Ga ada) jawab A Jani tanpa berpaling berasal dari HP nya.

“Nu baleg?” (Yg bener?) Ujar Sarah lagi mengusahakan meyakinkan.

“Baleg ih, sadinten ieu teu aya tamu.” (beneran ih, seharian ini ga tersedia tamu) percaya A Jani.

Sarah terdiam dan mengusahakan mengabaikann. Mungkin mereka lagi iseng.

Sarah langsung mengambil wudhu dan salat.

Setelah selesai salat, ia bersiap-siap untuk langsung pergi ke Lembang.

Karena Lembang terlampau dingin dan mereka pergi menggunakan motor, Sarah kenakan jaket yang paling tebal, tidak lupa syal rajut yang paling disayangi warna pink.

Gerald sudah datang, mereka pun pergi menuju Lembang tanpa tau suatu hal tengah menunggu mereka.

Motor yang mereka tumpangi berlangsung pelan sebab tetap di dalam komplek perumahan.

Mereka tidak berkata satu sama lain dan cuma sibuk bersama pikirannya masing-masing.

Ketika mendekati sekolah SMA, Sarah lihat seorang kakek berlangsung pelan

Sarah tetap mencermati kakek berikut tanpa sadar.

Kakek berikut berada jauh berasal dari motor mereka, posisinya di sebelah kanan jalan & berlangsung membelakangi Sarah dan Gerald.

Semakin lama jadi mendekat, sampai di pertigaan SMA, kakek itu mengambil jalan ke kanan, sama juga layaknya yang bakal mereka lakukan.

Setelah kakek itu belok kanan, dalam hitungan dua detik mereka pun mengambil jalan yang sama bersama si kakek.

Tapi selagi motor berbelok, tidak tersedia siapa-siapa di sana.

Jalanan sepi, tidak tersedia satu orang pun pejalan kaki. Sontak Sarah terkesiap otomatis melacak si kakek.

Jalan komplek itu lurus tanpa tersedia belokan lain atau pun gang.

Tidak barangkali kakek itu bersembunyi.

Gerald mengetahui keganjilan gerak gerik ku.

“Kunaon, Nong?” (Kenapa, Nong?) Tanya Gerald.

“Tadi aya aki2 belok didieu saeuncan urang belok! Naha euweuh?” ucapnya.

(Tadi tersedia kakek2 belok disini sebelum kita belok. Kenapa ga ada?) bertanya Sarah panik.

“Tong ngalamunlah! Euweuh sasaha titatadi ge!” (Jangan ngelamun! Ga tersedia siapa2 berasal dari tadi juga!” Seru Gerald.

Karena sudah mengalami perihal aneh hari ini, Sarah terasa terbiasa.

Akhirnya ia mencoba membicarakan banyak hal bersama Gerald untuk menepis rasa risau selama perjalanan.

Jalan menuju Lembang selagi itu tetap banyak berwujud pohon-pohon lebat di kanan kiri jalan.

Saat itu, pas di tanjakan sebelum Kafe yang bakal mereka datangi, Sarah lihat seekor kucing hitam melintas di tengah jalan dekat sekali bersama lintasan mereka.

Tetapi Gerald sama sekali tidak memperlambat kecepatan motor. Reflek Sarah menepuk pundak Gerald sambil berteriak..

“Rald!! Ucing!! Launan!!”(Rald!! kucing!! Pelanin!!) Teriak Sarah sedikit tertahan sambil menunjuk-nunjuk kucing tersebut.

Tanpa babibu Gerald tambah tancap gas memicu Sarah sedikit terjengkang.

“Cicing siah, Nong!! Euweuh nanaon!”(Diem kamu, Nong!! Ga tersedia apa2) Balas Gerald sewot.

Sarah sesudah itu bengong dan berbalik kebelakang lihat ke arah kucing berikut duduk dan memang tidak tersedia apa-apa disana.

Kosong, dan ia pun shock sebab jelas-jelas kucing hitam tadi bukan halusinasi.

Lanjut, mereka pun pada akhirnya sampai di Kafe.

Mereka langsung turun dan memilih saung dan sesudah itu memesan indomie keju kornet.

Sarah memesan teh manis panas, namun Gerald memesan kopi.

Sebenarnya, selagi itu Sarah tetap gelisah sebab perihal terakhir.

Tapi, mereka sudah setuju tak mau membicarakan dan mengusahakan melacak topik obrolan lain.

Sarah pun lupa sebab larut dalam keadaan malam yang dingin.

Langit cerah berbintang ditemani minuman hangat rasanya nikmat sekali.

Tak terasa selagi imsak datang, tanda mereka harus langsung pulang supaya sanggup menunaikan salat subuh.

Kami menghendaki bill, selagi waitress singgah menyerahkan bill, dia bertanya.

“A, Teh, bade uih ayeuna leres?” (A, Teh, mau pulang saat ini ya?) tanyanya.

“Iya A” Jawab Sarah dan Gerald berbarengan.

“Hemmm, yakin?” Sahutnya menyelidik.

“Iya A biar keburu salat subuh” Gerald membalas.

“Sok atuh, hati-hati nya dijalan” Ujarnya.

“Iya A nuhunnya” (iya A makasih ya) Sahut Sarah.

Mereka berlangsung menuju kasir dan berlangsung lagi obrolan yang serupa, kasir berikut menghendaki Sarah dan Gerald untuk berhati-hati.

Tanpa curiga, mereka pun membayar dan pergi ke parkiran.

Tukang parkir menghampiri mereka. Dan tebak? Percakapan yang sama terulang lagi.

Berujung tukang parkir berikut menghendaki mereka untuk berhati-hati.

Seketika Sarah dan Gerald pun saling pandang, mengetahui bakal perasaan tidak enak yang saat ini mereka rasakan.

Dan ternyata.. lebih dari satu perihal yang Sarah alami sebelum berangkat cuma ‘intro’.

Kalau saja ia tidak cuek dan lebih mencermati tanda-tanda.

Kalau saja Sarah tidak memaksakan pergi sehabis mengalami dua perihal pertama. Sarah dan Gerald tidak bakal mengalami perihal ini.

Tags:

sendaru12

sendaru12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top